BAB I
PENDAHULUAN
Dunia pendidikan islam di indonesia dan dunia islam pada
umumnya masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari rumusan tujuan
pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada
persoalan guru, metode, kurikulum dan sebagainya.
Upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan
dengan berbagai upaya. Penataran guru, pelatihan tenaga pengelola kependidikan
dan lain sebainya terus dilakukan, namun masalah pendidikan terus bermunculan.
Filsafat pendidikan islam secara umum akan mengkaji berbagai
masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan, mulai dari tujuan pendidikan,
dasar pendidikan islam, guru, anak didik sampai kepada evaluasi dalam penddikan
secara filosofis. Dengan imu ini akan mencoba mempergunakan jasa pemikiran
filosof yaitu pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMIKIRAN PENDIDIKAN AL GAZALI DAN IBNU KHALDUN
A. Aliran Al-Gazzaly
1. Riwayat hidup Al-Gazzaly
Nama lengkap Al-Gazzaly adalah Abu Hamid Muhammad bin
Muhammad Al-Gazzaly. Dilahirkan di kota Thus, sebuah kota di Kurasan Persia.
Pada tahun 450 H atau 1059 M. Ayahnya seorang peminta wool. Al-Gazzaly
mempunyai seorang saudara.
Imam Al-Gazzaly sejak kecilnya dikenal sebagai seorang anak
pencinta ilmu pengetahuan dan cenderung mencari kebenaran yang hakiki,
sekalipun didera duka cita, di landa aneka rupa duka nestapa dan sengsara
untaian kata-kata berikut mengungkapkan kepribadiannya:
“ kehausan untuk mencari hakiki kebenaran sesuatu sebagai
habit dan favorit dari sejak kecil dan masa mudaku merupakan insting dan bakat
yang dicampakan Allah swt. Pada temperamen saya, bukan merupakan usaha
ataurekaan saja”.
Pada masa anak-anak Al-Gazzaly belajar kepada Ahmad bin
Muhammad Ar-radzikani di Thus. Beliau menekuni pelajaran-pelajaran filsafat.
Sesudah itu, Imam Al-Gazzaly pindah ke Nisabur untuk belajar kepada seorang
ahli agama kenamaan dimasanya, yaitu Al-Juwaini, Imam al Harmain (w. 478 H atau
1085 M. Dari beliau ia belajar Ilmu Kalam, Ilmu Ushul, dan Ilmu Pengetahuan
Agama lainnya.
Setelah gurunya meninggal di Nisabur beliau menuju ke istana
Nidzam al Mulk yang menjadi perdana mentri sultan Bani Saljuk. Disana beliau di
angkat sebagai guru besar di Universitas yang didirikannya di Bagdad, yang
terjadi pada tahun 484 H atau 1091 M.
Di tengah-tengah kesibukannya mengajar di Bagdad, beliau
masih sempat mengarang sejumlah kitab seperti : Al-Bashit, Al-Washit,
Al-Wajiz,Khulashah,Ilmu Fiqh,Al Mungil fi ilm Al Jadal (ilmu debat)..
Setelah empat tahun mengajar di Bagdad, lalu beliau pergi
mengembara ke Padang Pasir untuk mempersiapkan diri dengan persiapan agama yang
benar dan jiwa yang suci dari noda-noda keduniaan. Setelah itu beliau kembali
ke Bagdad, setelah sepuluh tahun lamanya di sana beliau pindah ke Naisaburi dan
sibuk mengajar disana. Tidak lama setelah itu beliau meninggal dunia di kota
Thus (kota kelahirannya) pada tahun 505 H/1111 M .
2. Konsep Pendidikan Al-Ghazzaly.
a. Tujuan pendidikan
Al-Ghazzali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan
ahli filsafat. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah realisasi
tujuan keagamaan dan akhlak, dimana Fadilah (keutamaan) dan Taqarrub kepada
Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Sebagaimana beliau
tegaskan: manakala seorang ayah menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya
menjaganya dari siksaan api neraka di akhirat dengan cara mendidik, melatihnya
serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat, karena akhlak yang baik merupakan
sifat rasulullah.
Selanjutnya beliau mengatakan : “ Wajiblah bagi seorang guru
untuk mengarahkan murid kepada tujuan mempelajari ilmu yaitu taqarrub kepada
Allah bukannya mengarah kepada pimpinan dan kemegahan.”
Sebab-sebab yang mendorong Al-Ghazali sangat memperhatikan
tujuan keagamaan ialah karena pada waktu itu kerusakan akhlak orang banyak
telah merajalela. Beliau telah menjelaskan tentang tujuan sistem pendidikan
dengan menerangkan tentang berbagai ilmu yang wajib dipelajari oleh murid yang
sesuai dengan kurikulum pengajaran masa kini dan juga mungkin metode-metode
mengajar yang harus diikuti oleh guru dalam mendidik anak dan dalam menyajikan
ilmu pengetahuan kepada murid, supaya menarik minat dan perhatian mereka serta
sesuai dengan kecenderungan mereka. Beliau membagi jenis-jenis ilmu pengetahuan
dan menerangkan nilai ilmiah serta manfaatnya bagi murid.
Al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai
melalui kegiatan pendidikan ada dua yaitu:
1. Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan
diri kepada Allah.
2. Kesempurnaan insani yang bermuara kepada kebahagiaan
dunia dan akhirat. Al-Ghazali tidak melupakan masalah-masalah duniawi, karena
ia diberi ruang dalam sistem pendidikannya bagi perkembangan duniawi. Tetapi
dalam pandangannya, mempersiapkan diri untuk masalah-masalah dunia itu hanya
dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di alam akhirat yang lebih
utama dan kekal. Beliau melihat bahwa ilmu itu sendiri adalah keutamaan dan ia
melebihi segala-galanya. Oleh karena itu, menguasai ilmu bagi dia termasuk
tujuan pendidikan, mengingat nilai yang dikandungnya serta kelezatan dan
kenikmatan yang diperoleh manusia padanya. Modal kebahagiaan di dunia dan
akhirat itu tak lain adalah ilmu.
b. Teknik Mengajar dan Adab Sopan santun Seorang Guru
Al-Ghazali sangat menyetujui tentang pentingnya aspek
keagamaan dalam pendidikan, tetapi tidak mengabaikan aspek amaliah meskipun
beliau tidak terlalu memusatkan perhatiannya pada aspek ini. Beliau menghendaki
agar pendidikan dilandasi dengan agama dan akhlak. Itulah sebabnya beliau
memandang bahwa teknik mengajar merupakan pekerjaan yang paling utama yang
harus diikuti oleh setiap orang. Pandangan tersebut didasarkan atas dalil Aqli
dan Naqli.
c. Kurikulum
Dalam pandangan al-Ghazali ilmu terbagi kepada tiga bagian:
1. ilmu-ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu
ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau
menilai ilmu tersebut tercela karena ilmu-ilmu tersebut terkadang dapat
menimbulkan mudharat bagi kaum yang memilikinya maupun bagi orang lain.
2. ilmu-ilmu yang terpuji baik seidkit maupun banyak yaitu
ilmu yag erat kaitannya dengan kepribadian dan macam-macamnya.
3. ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu atau waktu
sedikit dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam, karena dengan
mempelajarinya secara mendalam itu dapat menyebabkan terjadinya kekacauan
antara keyakinan dan keraguan, serta dapat pula membawa kepada kekhafiran,
seperti ilmu filsafat.
B. Aliran Ibnu Khaldun
1. Riwayat hidup Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun berasal dari keluarga politisi, intelektual,
dan aristokrat . Ia di lahirkan pada tanggal 7 mei 1332 di Tunisi, dan diberi
nama Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammad Ibn Khaldun. Keluarganya telah
mewariskan tradisi intelektual ke dalam dirinya, sedangkan masa ketika ia hidup
yang di tandai oleh jatuh bangunnya dinasti-dinasti islam, terutama dinasti
Umayyah dan dinasti Abbasiyah memberikan kerangka berpikir dean teori-teori
ilmu sosialnya serta filsafat.
Sebagaimana para pemikir islam lainnya, pendidikan masa
kecilnya berlangsung secara tradisional. Artinya ia harus belajar membaca Al
quran, Hadist, Fiqih, Satra dan Nahwu Sharaf dengan sarjana-sarjana terkenal
pada waktu itu.
Pada umur 20 tahun ia bekerja sebagai sekretaris Sultan Fez
di Maroko. Jatuhnya dinasti Al Muwahidun telah mempengaruhi proses
kehidupannya. Konflik dan perang saudara terjadi disana-sini. Suasana itu
ditandai dengan terjadinya perebuatan kekuasaan antara putera-putera mahkota da
tuan-tuan tanah yang menurut Isawi, pindah dari kekuasaan yang satu kekuasaan
yang lain dengan kecepatan yang mengherankan.
Pada tahun 1362 M, Ibnu Khaldun menyebrang ke spanyol dan
bekerja pada Raja Granada. Di Granada ia menjadi utusan raja untuk berunding
dengan Pedro, raja Granada, raja Castila, sedangkan di Sevilla, karena
kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari bekerja oleh penguasa kristen itu.
Sebagai imbalannya, tanah-tanah bekas milik keluarganya dikembalikan kepada ibnu
khaldun, tetapi ibnu Khaldun memilih tawaran yang sama dari raja Granada.
Kesanalah ia memboyong keluarganya dari Afrika.
Ia tidak lama disana, karena kecakapan dan prestasinya
menimbulkan iri hati para mentri. Itulah sebabnya ia kembali menyeberangi Gibraltar
untuk kembali ke Afrika, kemudian ia di angkat menjadi Perdana Mentri oleh
Sultan Aljazair, dan beberapa kali memimpin pasukan tentara dalam medan
pertempuran. Ketenangan hidup baru ia rasakan setelah melepaskan semua jabatan
resminya. Namun, karena ia dihadapi masalah yang sama, maka ia memutuskan diri
untuk naik haji. Akan tetapi, karena rakyat dan raja Mesir telah mengenal
reputasinya, ia ditawari jabatan guru kemudian ketua Mahkamah Agung di bawah
pemerintahan Dinasti Mamluk. Akhirnya ia tidak melanjutkan perjalanan hajinya.
Setelah tiga tahun, kehilangan keluarga dan harta bendanya
karena jabatanya itu, ia semakin taat, juga telah membangkitkan kembali niat
untuk menunaikan hajinya pada tahun 1387 M.
2. Konsep pendidikan Ibnu Khaldun
a. Pandangan tentang manusia didik
Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhuk yang berbeda
dengan makhluk lainnya. Menurut Ibnu Khaldun manusia adalah makhluk berpikir.
Oleh karena itu ian mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi.
Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Lewat berpikirnya
itu, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian
terhadap berbagai cara guna memperoeh makna hidup. Ibnu Khaldun berpendapat
bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan manusia di samping
harus sungguh-sungguh juga harus memiliki bakat.
Menurutnya dalam mencapai pengetahuan yang bermacam-macam
itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya
suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
b. Pandangan tentang ilmu
Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, ibnu khaldun membaginya
menjadi 3 macam yaitu :
1. Ilmu Lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa,
sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis ( sya’ir).
2. Ilmu Naqli yaitu ilmu yang bersumber dari Al quran dan
Sunnah Nabi.
3. Ilmu Aqli yaitu ilmu yang dapat menunjukan manusia dengan
daya pikir atau kecendrungannya kepada filsafat atau semua ilmu pengetahuan.
c. Metode pengajaran
Menurut Ibnu Khaldun bahwa mengajarkan pengetahuan kepada
pelajar hanyalah akan bermanfaat apabila dilakukan dengan berangsur-angsur,
sedikit demi sedikit. Pertama-tama ia harus diberi pelajaran tentang soal-soal
mengenai setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya.
Harus memperhatikan kekuatan berpikir pelajar dan
kesanggupannya memahami apa yang di berikan kepadanya. Dalam hubungannya dengan
mengajarkan ilmu kepada anak didik, Ibnu Khaldun menganjurkan agar para guru
mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik dengan metode yang baik. Ibnu
Khaldun lebih lanjut mengemukan kesulitan yang dihadapi para pelajar yang
didasarkan pada penglihatannya yang tajam terhadap para pelajar yang
dijumpainya.
Ibnu Khaldun menganjurkan agar pendidik bersikap sopan dan
halus pada muridnya. Hal ini termasuk juga sikap orang tua sebagai pendidik
yang utama.
d. Spesialisasi
Menurut Ibnu Khaldun, orang yang mendapat keahlian dalam
suatu pertukangan jarang sekali yang ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya
tukang jahit.
Hal ini disebabkan karena seseorang telah menjadi ahli dalam
bidang menjahit hingga keahliannya itu tertanam berurat berakar dalam jiwanya,
maka ia tidak akan ahli dalam pertukangan lainnya, kecuali apabila keahlian
yang pertama itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi corak terhadap
pemikirannya. Hal ini juga didasarkan pada alasannya bahwa keahlian itu adalah
sikap atau corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep Pendidikan Al-Ghazzaly.
Al-Ghazzali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan
ahli filsafat. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah realisasi
tujuan keagamaan dan akhlak, dimana Fadilah (keutamaan) dan Taqarrub kepada
Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Sebagaimana beliau
tegaskan: manakala seorang ayah menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya
menjaganya dari siksaan api neraka di akhirat dengan cara mendidik, melatihnya
serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat, karena akhlak yang baik merupakan
sifat rasulullah.
Konsep pendidikan ibnu khaldun
Ibnu khaldun memandang manusia sebagai makhuk yang berbeda
dengan makhluk lainnya. Menurut ibnu khaldun manusia adalah makhluk berpikir.
Oleh karena itu ian mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi.
B. Saran
Penulis mohon maaf jika banyak kesalahan dalam makalah ini,
karena kaliamat sempurna hanyalah milik Allah. Penulis juga mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan makalah ini.
DAFTAR PUSATAKA
Nata, abuddin. 2005. Filsafat pendidikan islam. Jakarta:Gaya
Media Pratama.
Al-Jumbulati Abdul Futuh At-Tuwaanisi, ali. 1993.
Perbandingan Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka CIpta.
Nata, abuddin. 2003. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan
Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
No bodies perfect in the world. SO!! Give me comment (s)