INFORMASI

Tidak akan kekurangan ilmu, jika kita berbagi ilmu.
(We Will Not Lost Our Knowledge if we share it to everyone)

Kamis, 29 Agustus 2013

Makalah PEMIKIRAN PENDIDIKAN AL GAZALI DAN IBNU KHALDUN



BAB I
PENDAHULUAN

Dunia pendidikan islam di indonesia dan dunia islam pada umumnya masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari rumusan tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru, metode, kurikulum dan sebagainya.
Upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya. Penataran guru, pelatihan tenaga pengelola kependidikan dan lain sebainya terus dilakukan, namun masalah pendidikan terus bermunculan.
Filsafat pendidikan islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan, mulai dari tujuan pendidikan, dasar pendidikan islam, guru, anak didik sampai kepada evaluasi dalam penddikan secara filosofis. Dengan imu ini akan mencoba mempergunakan jasa pemikiran filosof yaitu pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun dalam pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
PEMIKIRAN PENDIDIKAN AL GAZALI DAN IBNU KHALDUN
A. Aliran Al-Gazzaly
1. Riwayat hidup Al-Gazzaly
Nama lengkap Al-Gazzaly adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Gazzaly. Dilahirkan di kota Thus, sebuah kota di Kurasan Persia. Pada tahun 450 H atau 1059 M. Ayahnya seorang peminta wool. Al-Gazzaly mempunyai seorang saudara.
Imam Al-Gazzaly sejak kecilnya dikenal sebagai seorang anak pencinta ilmu pengetahuan dan cenderung mencari kebenaran yang hakiki, sekalipun didera duka cita, di landa aneka rupa duka nestapa dan sengsara untaian kata-kata berikut mengungkapkan kepribadiannya:
“ kehausan untuk mencari hakiki kebenaran sesuatu sebagai habit dan favorit dari sejak kecil dan masa mudaku merupakan insting dan bakat yang dicampakan Allah swt. Pada temperamen saya, bukan merupakan usaha ataurekaan saja”.
Pada masa anak-anak Al-Gazzaly belajar kepada Ahmad bin Muhammad Ar-radzikani di Thus. Beliau menekuni pelajaran-pelajaran filsafat. Sesudah itu, Imam Al-Gazzaly pindah ke Nisabur untuk belajar kepada seorang ahli agama kenamaan dimasanya, yaitu Al-Juwaini, Imam al Harmain (w. 478 H atau 1085 M. Dari beliau ia belajar Ilmu Kalam, Ilmu Ushul, dan Ilmu Pengetahuan Agama lainnya.
Setelah gurunya meninggal di Nisabur beliau menuju ke istana Nidzam al Mulk yang menjadi perdana mentri sultan Bani Saljuk. Disana beliau di angkat sebagai guru besar di Universitas yang didirikannya di Bagdad, yang terjadi pada tahun 484 H atau 1091 M.
Di tengah-tengah kesibukannya mengajar di Bagdad, beliau masih sempat mengarang sejumlah kitab seperti : Al-Bashit, Al-Washit, Al-Wajiz,Khulashah,Ilmu Fiqh,Al Mungil fi ilm Al Jadal (ilmu debat)..
Setelah empat tahun mengajar di Bagdad, lalu beliau pergi mengembara ke Padang Pasir untuk mempersiapkan diri dengan persiapan agama yang benar dan jiwa yang suci dari noda-noda keduniaan. Setelah itu beliau kembali ke Bagdad, setelah sepuluh tahun lamanya di sana beliau pindah ke Naisaburi dan sibuk mengajar disana. Tidak lama setelah itu beliau meninggal dunia di kota Thus (kota kelahirannya) pada tahun 505 H/1111 M .
2. Konsep Pendidikan Al-Ghazzaly.
a. Tujuan pendidikan
Al-Ghazzali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dimana Fadilah (keutamaan) dan Taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Sebagaimana beliau tegaskan: manakala seorang ayah menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya menjaganya dari siksaan api neraka di akhirat dengan cara mendidik, melatihnya serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat, karena akhlak yang baik merupakan sifat rasulullah.
Selanjutnya beliau mengatakan : “ Wajiblah bagi seorang guru untuk mengarahkan murid kepada tujuan mempelajari ilmu yaitu taqarrub kepada Allah bukannya mengarah kepada pimpinan dan kemegahan.”
Sebab-sebab yang mendorong Al-Ghazali sangat memperhatikan tujuan keagamaan ialah karena pada waktu itu kerusakan akhlak orang banyak telah merajalela. Beliau telah menjelaskan tentang tujuan sistem pendidikan dengan menerangkan tentang berbagai ilmu yang wajib dipelajari oleh murid yang sesuai dengan kurikulum pengajaran masa kini dan juga mungkin metode-metode mengajar yang harus diikuti oleh guru dalam mendidik anak dan dalam menyajikan ilmu pengetahuan kepada murid, supaya menarik minat dan perhatian mereka serta sesuai dengan kecenderungan mereka. Beliau membagi jenis-jenis ilmu pengetahuan dan menerangkan nilai ilmiah serta manfaatnya bagi murid.
Al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan ada dua yaitu:
1. Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.
2. Kesempurnaan insani yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali tidak melupakan masalah-masalah duniawi, karena ia diberi ruang dalam sistem pendidikannya bagi perkembangan duniawi. Tetapi dalam pandangannya, mempersiapkan diri untuk masalah-masalah dunia itu hanya dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di alam akhirat yang lebih utama dan kekal. Beliau melihat bahwa ilmu itu sendiri adalah keutamaan dan ia melebihi segala-galanya. Oleh karena itu, menguasai ilmu bagi dia termasuk tujuan pendidikan, mengingat nilai yang dikandungnya serta kelezatan dan kenikmatan yang diperoleh manusia padanya. Modal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu tak lain adalah ilmu.
b. Teknik Mengajar dan Adab Sopan santun Seorang Guru
Al-Ghazali sangat menyetujui tentang pentingnya aspek keagamaan dalam pendidikan, tetapi tidak mengabaikan aspek amaliah meskipun beliau tidak terlalu memusatkan perhatiannya pada aspek ini. Beliau menghendaki agar pendidikan dilandasi dengan agama dan akhlak. Itulah sebabnya beliau memandang bahwa teknik mengajar merupakan pekerjaan yang paling utama yang harus diikuti oleh setiap orang. Pandangan tersebut didasarkan atas dalil Aqli dan Naqli.

c. Kurikulum
Dalam pandangan al-Ghazali ilmu terbagi kepada tiga bagian:
1. ilmu-ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau menilai ilmu tersebut tercela karena ilmu-ilmu tersebut terkadang dapat menimbulkan mudharat bagi kaum yang memilikinya maupun bagi orang lain.
2. ilmu-ilmu yang terpuji baik seidkit maupun banyak yaitu ilmu yag erat kaitannya dengan kepribadian dan macam-macamnya.
3. ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu atau waktu sedikit dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam, karena dengan mempelajarinya secara mendalam itu dapat menyebabkan terjadinya kekacauan antara keyakinan dan keraguan, serta dapat pula membawa kepada kekhafiran, seperti ilmu filsafat.

B. Aliran Ibnu Khaldun
1. Riwayat hidup Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun berasal dari keluarga politisi, intelektual, dan aristokrat . Ia di lahirkan pada tanggal 7 mei 1332 di Tunisi, dan diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammad Ibn Khaldun. Keluarganya telah mewariskan tradisi intelektual ke dalam dirinya, sedangkan masa ketika ia hidup yang di tandai oleh jatuh bangunnya dinasti-dinasti islam, terutama dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah memberikan kerangka berpikir dean teori-teori ilmu sosialnya serta filsafat.
Sebagaimana para pemikir islam lainnya, pendidikan masa kecilnya berlangsung secara tradisional. Artinya ia harus belajar membaca Al quran, Hadist, Fiqih, Satra dan Nahwu Sharaf dengan sarjana-sarjana terkenal pada waktu itu.
Pada umur 20 tahun ia bekerja sebagai sekretaris Sultan Fez di Maroko. Jatuhnya dinasti Al Muwahidun telah mempengaruhi proses kehidupannya. Konflik dan perang saudara terjadi disana-sini. Suasana itu ditandai dengan terjadinya perebuatan kekuasaan antara putera-putera mahkota da tuan-tuan tanah yang menurut Isawi, pindah dari kekuasaan yang satu kekuasaan yang lain dengan kecepatan yang mengherankan.
Pada tahun 1362 M, Ibnu Khaldun menyebrang ke spanyol dan bekerja pada Raja Granada. Di Granada ia menjadi utusan raja untuk berunding dengan Pedro, raja Granada, raja Castila, sedangkan di Sevilla, karena kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari bekerja oleh penguasa kristen itu. Sebagai imbalannya, tanah-tanah bekas milik keluarganya dikembalikan kepada ibnu khaldun, tetapi ibnu Khaldun memilih tawaran yang sama dari raja Granada. Kesanalah ia memboyong keluarganya dari Afrika.
Ia tidak lama disana, karena kecakapan dan prestasinya menimbulkan iri hati para mentri. Itulah sebabnya ia kembali menyeberangi Gibraltar untuk kembali ke Afrika, kemudian ia di angkat menjadi Perdana Mentri oleh Sultan Aljazair, dan beberapa kali memimpin pasukan tentara dalam medan pertempuran. Ketenangan hidup baru ia rasakan setelah melepaskan semua jabatan resminya. Namun, karena ia dihadapi masalah yang sama, maka ia memutuskan diri untuk naik haji. Akan tetapi, karena rakyat dan raja Mesir telah mengenal reputasinya, ia ditawari jabatan guru kemudian ketua Mahkamah Agung di bawah pemerintahan Dinasti Mamluk. Akhirnya ia tidak melanjutkan perjalanan hajinya.
Setelah tiga tahun, kehilangan keluarga dan harta bendanya karena jabatanya itu, ia semakin taat, juga telah membangkitkan kembali niat untuk menunaikan hajinya pada tahun 1387 M.

2. Konsep pendidikan Ibnu Khaldun
a. Pandangan tentang manusia didik
Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhuk yang berbeda dengan makhluk lainnya. Menurut Ibnu Khaldun manusia adalah makhluk berpikir. Oleh karena itu ian mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Lewat berpikirnya itu, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoeh makna hidup. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan manusia di samping harus sungguh-sungguh juga harus memiliki bakat.
Menurutnya dalam mencapai pengetahuan yang bermacam-macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
b. Pandangan tentang ilmu
Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, ibnu khaldun membaginya menjadi 3 macam yaitu :
1. Ilmu Lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa, sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis ( sya’ir).
2. Ilmu Naqli yaitu ilmu yang bersumber dari Al quran dan Sunnah Nabi.
3. Ilmu Aqli yaitu ilmu yang dapat menunjukan manusia dengan daya pikir atau kecendrungannya kepada filsafat atau semua ilmu pengetahuan.
c. Metode pengajaran
Menurut Ibnu Khaldun bahwa mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanyalah akan bermanfaat apabila dilakukan dengan berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Pertama-tama ia harus diberi pelajaran tentang soal-soal mengenai setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya.
Harus memperhatikan kekuatan berpikir pelajar dan kesanggupannya memahami apa yang di berikan kepadanya. Dalam hubungannya dengan mengajarkan ilmu kepada anak didik, Ibnu Khaldun menganjurkan agar para guru mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik dengan metode yang baik. Ibnu Khaldun lebih lanjut mengemukan kesulitan yang dihadapi para pelajar yang didasarkan pada penglihatannya yang tajam terhadap para pelajar yang dijumpainya.
Ibnu Khaldun menganjurkan agar pendidik bersikap sopan dan halus pada muridnya. Hal ini termasuk juga sikap orang tua sebagai pendidik yang utama.
d. Spesialisasi
Menurut Ibnu Khaldun, orang yang mendapat keahlian dalam suatu pertukangan jarang sekali yang ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya tukang jahit.
Hal ini disebabkan karena seseorang telah menjadi ahli dalam bidang menjahit hingga keahliannya itu tertanam berurat berakar dalam jiwanya, maka ia tidak akan ahli dalam pertukangan lainnya, kecuali apabila keahlian yang pertama itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi corak terhadap pemikirannya. Hal ini juga didasarkan pada alasannya bahwa keahlian itu adalah sikap atau corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Konsep Pendidikan Al-Ghazzaly.
Al-Ghazzali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dimana Fadilah (keutamaan) dan Taqarrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Sebagaimana beliau tegaskan: manakala seorang ayah menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya menjaganya dari siksaan api neraka di akhirat dengan cara mendidik, melatihnya serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat, karena akhlak yang baik merupakan sifat rasulullah.
Konsep pendidikan ibnu khaldun
Ibnu khaldun memandang manusia sebagai makhuk yang berbeda dengan makhluk lainnya. Menurut ibnu khaldun manusia adalah makhluk berpikir. Oleh karena itu ian mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi.
B. Saran
Penulis mohon maaf jika banyak kesalahan dalam makalah ini, karena kaliamat sempurna hanyalah milik Allah. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSATAKA

Nata, abuddin. 2005. Filsafat pendidikan islam. Jakarta:Gaya Media Pratama.
Al-Jumbulati Abdul Futuh At-Tuwaanisi, ali. 1993. Perbandingan Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka CIpta.
Nata, abuddin. 2003. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No bodies perfect in the world. SO!! Give me comment (s)