BAB I
PENDAHULUAN
Dalam makalah ini akan dipaparkan semua tentang Tauhid Asma’
wa Shifat. Kemudian juga akan dijelaskan tentang makna dan Manhaj Salaf dalam
Tauhid Asma’ wa Shifat, Al-Asma’ul Husna dan Pendapat Golongan-Golongan Sesat Berikut
Bantahannya
PEMBAHASAN
A. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat
Makna tauhid asma’ wa sifat yaitu beriman kepada nama-nama
Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam al-Qur’an dan
Sunnah Rasul-Nya saw. Menurut apa yang
pantas bagi Allah swt. Tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil,
berdasarkan firman Allah swt.
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah
yang Maha Mendengar dan Melihat. (Asy-Syura: 11).
Allah menafikan jika ada sesuatu yang sesuatu
menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia Adalah Maha Mendengar dan Maha
Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia
berikan untuk diri-Nya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh Rasul-Nya. Maka barang
siapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau menamakan Allah
dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya, atau
mentakwilkan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah
tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Allah berfirman :
( ô`yJsù ãNn=øßr& Ç`£JÏB 3utIøù$# n?tã «!$# $\/Éx. ÇÊÎÈ
“Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
B.
Metode Beriman Kepada Asma’ Wa Shifat
Metode iman kepada nama dan sifat-sifat Allah swt ada dua;
Pertama, Itsbat, kedua, Nafyu. Itsbat maksudnya mengimani bahwa Allah swt
memiliki al-asma’ wa shifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaa-Nya. Sedangkan
Nafyu maksudnya menafikan adanya makhluk yang menyerupai Allah swt, atau
menafikan adanya anak dan orangtua dari Allah swt dan lain-lain.
Sehubungan dengan al-asma’ wa shifat ini ada beberapa hal
yang perlu kita perhatikan secara lebih khusus :
Janganlah memberi
nama Allah swt dengan nama-nama yang tidak disebutkan didalam al-Qur’an dan
Sunnah. Allah berfirman :
¬!ur âä!$oÿôF{$#
4Óo_ó¡çtø:$# çnqãã÷$$sù $pkÍ5 ( (#râsur tûïÏ%©!$# crßÅsù=ã þÎû
¾ÏmÍ´¯»yJór& 4 tb÷rtôfãy $tB (#qçR%x. tbqè=yJ÷èt ÇÊÑÉÈ
“Hanya milik Allah al-asma’ al-husna, maka beermohonlah
kepada-Nya dengan menyebut al-asma’ al-husna itu da tinggalkanlah oran-orang
yang menyimpang dari kebenaran dalam ( menyebut ) nama-nama-Nya. Nanti mereka
akan mendapat balasan terhadap aoa yang telah mereka kerjakan.” ( Al-A’raf 7:
180).
Jangan menyamakan
(tamtsil), Zat Allah swt, sifat-sifat dan af’al (pebuatan)-Nya dengan makhluk
manapun. Allah berfirman :
ö@è% uqèd ª!$# îymr&
ÇÊÈ ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#t öNs9ur ôs9qã ÇÌÈ öNs9ur `ä3t ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr&
ÇÍÈ
”Katakanlah; “ Dia Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya. (Al-Ikhlas 112: 1-4)
Jika ada kesamaan nama dan sifat antara Allah swt dan
makhluk-Nya, misalnya Allah Maha mendengar, manusia juga bisa mendengar, Allah
berbicara dengan nabi Musa, manusia juga berbicara, dan lain sebagainya, maka
persamaan tersebut hanyalah persamaan nama saja, bukan persamaan secara hakiki.
Nama dan sifat Allah swt sesuai dengan Zat dan Kemahaan-Nya, nama dan sifat
manusia atau makhluk lain sesuai dengan kemakhlukannya. Oleh sebab itu tidak
ada alasan untuk men-takwil-kan sifat-sifat Allah tertentu karena takut tasybih
atau tamtsil, dan lebih dari itu tentu tidak dibenarkan menolak sama sekali
nama atau sifat Allah swt yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya karena
takut tasybih, tamtsil dan tidak mau takwil atau karena tidak mau mengurangi
kemutlakan Allah swt karena nama dan sifat-sifat itu. Sebab menolak salah satu
nama atau sifat Allah berarti sama saja dengan mendustakan Allah dan Rasul-Nya.
Mengimani al-asma’
wa sifat bagi Allah swt harus apa adanya tanpa menanyakan atau mempertanyakan “
bagaimana” nya ( kaifiyat). Misalnya allah mengatakan :
“… kemudian Dia bersemayam diatas ‘Arasy…” (Ar-Radu 13: 2)
Kita harus mengimani bahwa Allah swt bersemayam diatas
‘Arasy, tanpa mempertanyakan bagaimana caranya Allah bersemayam, berapa luasnya
‘Arasy, mana yang lebih besar Allah atau ‘Arasy ? dimanakah ‘Arasy itu ? dan
pertanyaan- pertanyaan lainya yang tidak mungkin diajukan. Selain tidak akan
bisa dijawab karena itu masalah ghaib, juga tidak ada gunanya, bahkan
menghabiskan waktu saja.
Dalam suatu hadis
disebutkan Allah mempunyai 99 nama yang artinya :
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu.
Tiadalah seseorang menghafalkan kecuali masuk surga. Dia itu tunggal dan
menyukai yang tunggal.” (HR. Bukhari Muslim)
Kata “menghafal” dalam hadits di atas janganlah diartikan
secara sempit dengan sekadar menghafal di lisan, tapi lebih dari itu mengimani
dan mengamalkannya dalam kehidupan.
C. Manhaj Salaf Dalam Hal Asma’ Wa Shifat
Yaitu mengimani dan menetapkan sebagaimana Ia datang tanpa
tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil, dan hal itu termasuk pengertia beeriman
kepada Allah.
Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “kemudian ucapan yang
menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa
yang Dia sifatkan untuk Diri-Nya atau yang disifati oleh Rasul-Nya, dan dengan
apa yang disifatkan oleh as-Sabiqu al-Awwalun (para generasi pertama), serta
tidak melampaui al-Qur’an dan al-Hadits.
Mazhab salaf adalah antara ta’thil, tamtsil. Mereka tidak
menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah swt dengan makhlukn-Nya.
Sebagaimana mereka tidak menyerupaka Dzat-Nya dengan dzar yang ada pada
makhluk-Nya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya,
atau apa yagn disifatkan oleh Rasul-Nya. Seandainya mereka menafikan, berarti
mereka telah menghilangkan al-asma’ wa sifat yang ulya’, dan berarti mengubah
kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari al-asma’ dan
ayat-ayat-Nya”.
D. Kandungan Asma’ Husna Allah
Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama yang tidak
mengandung sifat dan makna, justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada
makna yang mulia dan sifat yang agung. Setiap nama menunjukkan kepada sifat,
maka nama ar-Rahman dan ar-Rahim
menunjukkan sifat Rahmah; as-Sami’ dan al-Bashir menunjukkan sifat mendengar
dan melihat begitulah seterusnya setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan
sifat-sifat-Nya.
Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap nama dari
nama-nama-Nya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang
dikandungnya, seperti al-‘Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, al-Qadir menunjukkan
Dzat dan qudrah, ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat.”[1]
Ibnul Qayyim berkata, “ Nama-nama Allah swt menunjukkan
sifat-sifat kesempurnaan-Nya, karena ia diambil dari sifat-sifat-Nya. Jadi ia
adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah menjadi husna. Sebab andaikata ia
hanyalah lafazh-lafazh yang tak bermakna maka tidaklah disebut husna, juga
tidak menunjukkan kepada pujian dan kesempurnaan. Jika demikian tentu
diperbolehkan meletakkan nama intiqam ( balas dendam) dan ghadhab (marah) pada
tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, “ Ya-Allah
sesungguhnya saya telah menzhalimi diri saya sendiri, maka ampunilah aku,
karena sesungguhnya Engkau adalah al-Muntaqim (Maha membalas dendam). Ya Allah
anugerahilah saya, karena sesungguhnya Engkau adalah adh-Dharr (yang memberi
mudharat) dan al-Mani’ (yang menolak)…” dan yang semacamnya.
E. Studi Tentang Sebagian Sifat-Sifat Allah
Sifat-sifat Allah teerbagi kepada dua bagian. Bagian
pertama, adalah sifat Dzatiyah, yakni sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya.
Sifat ini tidak berpisah dari Dzat-Nya. Seperti; al-Ilmu, al-Qudrat, al-bashar,
dan lain sebagainya.
Bagian kedua, adalah sifat fi’liyah. Yaitu sifat yang dia
buat jika berkehendak. Seperti, bersemayam diatas ‘Arasy, turun kelangit dunia
ketika tinggal sepertiga akhir malam, dan datang pada hari jum’at.
F. Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang
Sifat-Sifat Ini Beserta Bantahannya
Pendapat mereka
Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu’tazilah dan
Asy’ariyah menyalahi Ahlus-Sunnah wal Jama’ah dalam hal sifat-sifat Allah.
Mereka menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari
sifat-sifat itu atau men-ta’wil-kan nash-nash yang menetapkanya dengan
ta’wil yang batil. Syubhat mereka dalam
hal ini adalah mereka mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan
adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan lain-Nya). Oleh karena sifat-sifat ini
juga terdapat pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan
penyerupaan-Nya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan menurut mereka atau
harus di-ta’wil-kan dari zhahirnya, atau tafwidh (menyerahkan) makna-maknanya
kepada Allah swt. Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan
inilah Syubhat mereka terhadap nash-nash yang ada.
Bantahan terhadap
mereka
Sifat-sifat
ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan
mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah.
Allah berfirman yang artinya :
“Ikutilah apa yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (Al-A’raf: 3)
Maka barang siapa yang menafikanya berarti ia telah
menafikan apa yng telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, dan berarti sama saja
menentang ke dua-Nya.
Sesungguhnya kaum
salaf dari sahabat, tabi’in, dan ulama
pada masa-masa yang dimuliakan, semuaya menetapkan al-asma’ wa shifat Allah
ini, dan mereka tidak berselisih sedikit pun didalamnya.
Imam Ibnul Qayyim berkata, “manusia banyak berselisih
pendapat dalam hal tentang hukum, dan mereka tidak begitu mempermasalahkan ayat
atau hadits-hadits yang bersangkutan dengan sifat-sifat, sekalipun itu hanya
sekali. Bahkan mereka sepakat untuk menetapkannya dan membiarkan apa adanya
disertai dengan pemahaman makna-makna lafadz-nya bahwa hal tersebut telah
dijelaskan dengan tuntas. Maka Allah dan Rasul-Nya menjelaska dengan jelas dan
gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang
bisa menimpa ahlul ilmi [2].
Sedangkan Rasulullah saw telah bersabda, “Kewajiban kalian
adalah mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa’ur Rasydin”.
Sedangkan penetapan sifat adalah termasuk hal tersebut.
Seandainya zhahir
nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud, dan dia wajib di-ta’wil-nya
(penyerahan makna kepada Allah), tentu Allah dan Rasul-Nya telah berbicara
kepada kita dengan kitab dan ucapan yang kita
tidak paham maknanya. Dan tentu
nash ini bersifat teka-teki atau kode-kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami.
Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah maha suci dari yang demikian. Karena
kalam Allah dan kalam Rasul-Nya adlah ucapan yang jelas, mudah dimengerti dan
berisi petunjuk.
Menafikan sifat
berarti menafikan wujud Allah, karena tiada dzat tanpa sifat, dan setiap wujud
pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan ada wujud yang tidak mempunyai
sifat dan nama. Sesungguhya yang tidak mempunyai sifat hanyalah ma’dum (sesuatu
yang tidak ada).
Kesamaan nama-nama
Allah dan sifat-sifat-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya dalam
bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan dalam hakikat atau
kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang khusus dan sesuai dengan kepantasanNya
pula. Ini tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan. Bahkan antar makhluk
pun tidak harus sama.
SebagaimanaAllah
mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk, maka Dia juga mempunyai
sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat makhluk.
Sesungguhnya
menetapakan sifat-sifat yang ada adalah kesempurnaan dan menafikannya adalah
kekurangan. Maka wajiblah penetapn sifat-sifat itu.
BAB III
KESIMPULAN
Al-Asma’ artinya nama-nama, sedangkan as-Shifat artinya
sifat-sifat. Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang menunjukkan
ke-Mahasempurnaan-Nya, sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci al-Qur’an dan
Sunnah Rasulullah saw.
Metode iman kepada Al-Asma’ wa Shifat ada dua; yang pertama,
itsbat,sedangkan yang kedua ialah Nafyu. Itsbat mengimani bahwa Allah memiliki
Al-Asma’ wa Shifat. Sedangkan Nafyu menafikan atau menolak segala Al-Asma’ wa
Shifat yang menunjukkan ketidak sempurnaan-Nya.
[1] Lihat Majmu’ Fatawa, 13/333-334
[2] Mukhtasar
Shawa’iq Mursalah,1/5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
No bodies perfect in the world. SO!! Give me comment (s)