BAB I
PENDAHULUAN
Organisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan manusia. Setiap manusia hidup dalam sebuah organisasi. Pertanyaannya,
apakah setiap manusia menyadari bahwa dia hidup dalam organisasi? Untuk apa ia
menjadi bagian dari organisasi tersebut?
Keberadaan manusia di dunia ini tidak luput dari keanggotaan
suatu organisasi. Organisasi merupakan sebuah wadah dimana orang berinteraksi
untuk mencapai suatu tujuan bersama. Pemahaman organisasi ini menunjukkan bahwa
dimana pun dan kapan pun manusia berada ( berinteraksi ) maka disitu muncul
organisasi. Pemahaman organisasi tidak lagi sebagai suatu wadah organik dari
orang-orang yang berkumpul untuk suatu tujuan, tetapi berkembang pada interaksi
orang untuk maksud tertentu. Oraganisasi dapat diidentifikasi sebagai keluarga,
rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi,
Negara, perserikatan dua Negara atau lebih, perserikatan bangsa-bangsa, dan
lain sebagainya. Kemestian manusia saat ini berada dalam suatu organisasi ditujukan
untuk mencapai tujuan bersama dengan lebih efektif dan efesien, bukan
semata-mata suatu kondisi kebetulan. Efektifitas dan efesiensi ini dapat
digambarkan sebagai 100 sapu lidi yang diikat secara bersamaan akan memiliki
kekuatan yang lebih besar untuk membersihkan satu halaman dibandingkan dengan
sejumlah 100 sapu lidi digunakan secara terpisah untuk membersihakn halaman.
Pendidikan sebagai inventasi dalam pembangunan sumber daya
manusia ( SDM ) merupakan upaya yang dilakukan dalam konteks organisasi, apakah
keluarga, masyarakat, sekolah atau jenis organisasi lainnya. Pendidikan
memiliki tujuan yang harus dicapai yang disebut tujuan pendidikan. Pada level
Negara, tujuan ini disebut tujuan pendidikan nasional , pada level propinsi
disebut tujuan pendidikan provinsi, pada level kabupaten/kota dikenal dengan
tujuan pendidikan kab./kota, dan pada sekolah dikenal dengan pendidikan dengan
tujuan pendidikan sekolah. Pencapaian tujuan ini akan lebioh efektif dan
efesien jika dilakukan dengan menggunakan pendekatan organisasi. Dalam
perkembangan zaman saat ini, dimana para orang tua disibukkan dengan berbagai
pendidikan, proses pendidikan bagi anak-anak lebih banyak dipercayakan pada
organisasi pendidikan formal ( sekolah/madrasah )
Sekoalah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu tempat
terjadinya proses pendidikan dan organisasi pendidikan formal. Kedua-duanya
memiliki tujuan yang sama yang dinamakan tujuan pendidikan sekolah. Misal
tujuan pendidikan SMP Lab.School UPI. Pertanyaannya, apakah tujuan tersebut
tujuan pendidikan atau organisasi sekolah?
Penyelenggaraan pendidikan dalam sebuah organisasi
menunjukkan bahwa keberadaan organisasi pendidikan tersebut ditujukan untuk
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efesien. Tujuan pendidikan dan
tujuan sekolah sebagai organisasi pendidikan formal tidaklah terpisah.
Pendidikan ditujukan bagi orang-orang yang mengikuti proses pendidikan. Dan
proses pendidikan ini berada dalam organisasi. Dengan demikian, keberlansungan
proses pendidikan ini menjadi dasar bagi penetapan tujuan sekolah (sebagai
suatu organisasi).
Apakah mungkin penyelenggaraan pendidikan dilakukan di luar
organisasi? Jawabnya pasti “ tidak mungkin.“ Mengapa demikian? Diawal telah
diungkapkan bahwa keberadaan manusia saat ini tidak memungkinkan untuk berada
di luar sebuah organisasi. Dalam konteks dari suatu Negara. Dan suatu Negara
memiliki sistem pendidikan tersendiri.
Artinya setiap orang yang menjadi warga suatu Negara dan tinggal di
Negara tersebut akan menjadi bagian dari pendidikan Negara tersebut. Setiap
sekolah atau lembaga pendidikan dimanapun saat ini harus mengikuti sistem
penyelengaraan pendidikan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan Negara
tersebut. Di Indonesia, setiap lembaga pendidikan harus mengikuti Undang-undang
No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
BAB II
KONSEP DASAR
1. Pengertian
Organisasi
Organisasi didefinisikan secara beragam oleh berbagai ahli.
Variasi definisi didasarkan pada sudut pandang dan waktu ahli ketika
mendefinisikan. Perkembangan kajian organisasi dari organisasi sederhana
mengarah pada pola organisasi yang kompleks yang dicirikan oleh konektifitas
organisasi yan tidak terbatas antara unit-unit organisasi dengan lingkungannya.
Gibson, Ivancevich, dan Donnelly (1996:6) mendefinisikan
organisasi sebagai “ wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang
sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri.” Lebih
lanjut ketiganya menyebutkan bahwa organisasi adalah suatu unit terkoordinasi
terdiri setidaknya dua orang berfungsi
mencapai suatu sasaran tertentu atau serangkaian sasaran. Definisi ini
menekankan pada upaya peningkatan pencapaian tujuan bersama secara lebih
efektif dan efesien melalui koordinasi antar unit organisasi.
Stephen P. Robbins ( 1994:4 ) mendefinisikan organisasi :
“ kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara
sadar, dengan sebuah batasan yang relative dapat didefinisikan, yang bekerja
atas dasar yang relative menerus mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok
tujuan.”
Definisi dari Robbins tersebut, menekankan bahwa organisasi
adalah suatu sistem sosial yang perlu dikoordinasi dalam arti perlu manjemen.
Batasan organisasi menurut Robbins tesebut akan berubah sebagaimana tuntutan
lingkungan organisasi, sehingga dikatakan “relatif”
Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel ( 2001:1 ) menelusuri
kajian organisasi dalam tiga pandangan, yaitu rational, natural, dan open
sistem.
A rational-sistem perspective views organization as formal
instrument designed to achieve organizational goals; structure is the most
important feature. Telaahan ini menunjukkan bahwa dalam pandangan sistem
rational (logika) organisasi merupakan instrument formal yang dibuat untuk
mencapai tujuan organisasi dan struktur aspek yang paling penting.
A natural-sistems prefective views organization as typical
social groups intent on surving; people are the most important aspect. Dalam
pandangan sistem natural (alamiah) Robbins memandang organisasi sebagai
kelompok sosial khusus yang bertujuan untuk pertahanan; orang-orang merupakan
aspek yang paling penting/utama
An open-sistems perspective has the potential to combine
rational and natural elements in the same framework and provide a more complete
perspective. Robbins memandang organisasi dalam arti sebuah sistem terbuka
sebagai sesuatu yang potensial untuk menghubungkan komponen rasional dan
natural dalam satu kerangkan dan memberikan satu pandangan yang lebih lengkap.
Dari beberapa definis diatas dapat kita simpulkan bahwa
organisasi itu adalah sebagai berikut: “
Suatu sistem interaksi antar orang yang ditujukan untuk mencapai tujuan
organisasi, dimana sistem tersebut memeberikan arahan perilaku bagi anggota
organisasi. Definisi ini menekan pada keharusannya sebuah organisasi didasarkan
kepada interaksi sosial diantara anggotanya dan anggota dengan lingkungannya
supaya tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efesien.
2. Aspek-aspek
Organisasi
Aspek-aspek organisasi adalah komponen-komponen yang harus
ada dalam suatu organisasi. Keberadaan komponen ini sebagai pilar dari suatu
organisasi. Artinya jika salah satu komponen organisasi tidak berfungsi, maka
organisasi tidak akan berjalan. Dalam pandangan sistem organisasi mengalami
entrophy, yaitu kondisi dimana organisasi dikategorikan hancur (dalam tanaman
digambarkan sebagai kondisi layu).
O’Connor,T. Mengungkapkan bahwa organisasi setidaknya harus
memiliki empat komponen utama, yaitu: mission (misi), goals (tujuan),
objectives (sasaran-sasaran), dan behavior (perilaku).
Mission adalah alasan utama keberadaan suatu organisasi.
Goals adalah tujuan-tujuan umum atau tujuan divisi-divisi fungsional organisasi
yang dihubungkan dengan stakeholder organisasi. Objektives adalah hasil/sasaran
yang spesifik, terukur dan terkait dengan tujuan. Seperti peningkatan nilai
Ujian Nasional (UN) sebesar 0,5 dalam waktu satu tahun kedepan. Sasaran ini
biasanya mencantumkan batasan waktu dan siapa yang bertanggungjawab atas
sasaran tersebut. Behavior mengacu kepada produktifitas dari tugas-tugas rutin
pegawai. Pertanggungjawaban perilaku dalam pencapaian tujuan merupakan fungsi
personalia. Dalam kebanyakan desain organisasi formal, komunikasi berada
diantara perilaku dan tujuan.
Keberadaan suatu organisasi tidak akan lepas dari empat
komponen tersebut diatas. Jika suatu organisasi tidak memiliki sasaran yang
harus dicapai oleh setiap orang dalam organisasi, maka mereka akan kebingungan
mengenai apa dan bagaimana perilaku yang harus dimunculkan oleh pegawai. Jika
suatu organisasi tidak memiliki misi yang harus dilakukan, maka orang-orang
dalam organisasi akan kebingungan mengenai apa yang harus dicapai oleh
organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa empst komponen organisasi tersebut saling
terkait satu sama lain, sehingga tidak akan berfungsi suatu organisasi jika
salah satu komponennya hilang.
3. Jenis-jenis
Organisasi
Perkembangan kajian organisasi diawali dari kajian
organisasi sebagai organisasi formal, yaitu organisasi yang didesain untuk
mencapai tujuan bersama. Perkembangan ini terus berlansung dan berbagai studi keorganisasian
terusa dilakukan. Perkembangan inilah pada akhirnya memunculkan organisasi
informal sebagai implikasi dari adanya organisasi formal.
a. Organisasi
Formal
Organisasi formal adalah organisasi yang dicirikan oleh
struktur orgnaisasi. Keberadaan struktur organisasi menjadi pembeda utama
antara organisasi formal dan informal. Struktur dalam organisasi formal
dimaksudkan untuk menyediakan penugasan kewajiban dan tanggungjawab kepada
personil dan untuk membangun hubungan tertentu diantara orang-orang pada
berbagai kedudukan. (Oteng Sutisna,1993:207) sekolah dasar merupakan contoh
sebuah organisasi formal.
Struktur dalam organisasi formal memperlihatkan unsur administratif
berikut.
1). Kedudukan. Struktur menggambarkan letak/posisi setiap
orang dalam organisasi tanpa terkecuali. Kedudukan sekarang dalam struktur
organisasi mencerminkan sejumlah kewajban sebagai bagian dari upaya pencapaian
tujuan dan hak-hak yang dimiliki secara formal dalam posisi yang didudukinya.
Sebagai contoh, kepala sekolah adalah salah satu contoh kedudukan dalam
struktur organisasi sekolah. Kedudukan sebagai kepala sekolah ini mencerminkan
adanya sejumlah kewajiban yang harus dilakukan pemangku jabatan sebagai
pimpinan dan manajer sekolaah, juga memperlihatkan adanya hak-hak yang diterima
secara formal manakala seorang menjabat sebagai kepala sekolah.
2). Hierarki Kekuasaan. Struktur digambarkan suatu rangkaian
hubungan antara satu orang dengan orang lainnya dalam suatu organisasi.
Rangkaian hubungan ini mencerminkan suatu hirarki kekuasaan yang inheren dalam
setiap kedudukan. Tanggungjawab merupakan suatu istilah yang melekat dalam
setiap kedudukan dan hirarki kekuasaan di dalam organisasi. Adanya hirarki
kekuasaan menunjukkan bahwa pencapaian tujuan organisasi dibagi kepada berbagai
komponen organisasi dan diimplementasikan secara sinergi melalui hirarki
kekuasaan masing-masing yagn dikoordinasikan dan dipimpin oleh manajer puncak.
Dalam organisasi persekolahan, hirarki kekuasaan tertinggi adalah kepala
sekolah.
3). Kedudukan garis dan staf. Organisasi garis menegaskan
struktur pengambilan keputusan, jalan permohonan dan saluran komunikasi resmi
untuk melaporkan informasi dan mengeluarkan instruksi, perintah, dan petunjuk
pelaksanaan. Kedudukan garis adalah ialah kedudukan yang diserahi kekuasaan
administrative umum dalam arus lansung dari tempat paling atas ketempat yang
paling bawah. Kedudukan staf mewakili keahlian-keahlian khusus yang diperlukan
bagi berfungsinya kedudukan garis tertentu dengan pasti. ( Sutina,1993:208).
b. Organisasi
Informal
Interaksi antara orang dalam organisasi formal pasti
mengahasilkan sebuah perkembangan hubungan yang tidak saja hubungan struktual,
terlebih pada organisasi persekolahan, dimana kekeluargaan menjadi salah satu
landasan perilakunya. Perkembangan hubungan dari interaksi orang dalam
organisasi ini akan meningkat secara kuat sentimen-sentimen dan komitmen setiap
orang, sehingga muncul empati atau simpati satu sama lain. Hubungan inilah yang
terus tumbuh selama organisasi formal itu ada yang dinamakan organisasi
informal. Hubungan interaksi ini tidak berstruktur sebagaimana struktur
organisasi formal.
Walaupun sulit mengidentifikasi keberadaannya secara kasat
mata, namun keberadaan organisasi informal ini dapat dilihat dari tiga
karakteristik, yaitu norma perilaku, tekaknan untuk menyesuaikan diri, dan
kepemimpinan informal (Sutisna,1993:221)
Norma perilaku adalah standar perilaku yang diharapkan menjadi
perilaku bersama yang ditetapkan oleh kelompok (orang-orang dalam orgnisasi)
dalam sebuah kesepakatan sosial, sehingga sangsinya pun sangsi sosial.
Norma perilaku dalam organisasi informal tidak tertulis
sebagaimana organisasi formal, tetapi menjadi kesepakatan bersama diantara
orang-orang didalam organisasi.
Tekanana untuk menyesuaikan diri akan muncul apabila
seseorang akan bergabung dengan suatu kelompok informal. Menggabungkan diri
dengan suatu kelompok tidak sekedar bergabung secara fisik dalam suatu
organisasi informal tersebut. Karena itu organisasi informal sering muncul
dalam bentuk kelompok-kelompok yang tidak terlalu besar, karena syarat
keberterimaan sebagai bagian dari organisasi informal ini tidak hanya
keanggotaan dalam organisasi formalnya, tetapi lebih spesifik pada kesamaan
antar individu, apakah kesamaan asal daerah, agama, nilai yang dianut, hobi,
dan lain sebagainya.
Kepemimpinan informal dalam organisasi informal menjadi
salah satu komponen yang kuat mempengaruhi orang-orang dalam organisasi, bahkan
memungkinkan melenihi pengaruh pemimpin organisasi formal. Pemimpin informal
muncul dari kelompok dan membimbing seta mengarahkan melalui persuasi dan
pengaruh. Kepemimpinan dalam organisasi informal sangat kuat mempengaruhi
perilaku orang-orang karena inilah kepemimpinan yang sesungguhnya, dimana
seseorang dipatuhi bukan karena memiliki jabatan,tetapi ada kelebihan yang
secara alamiah mampu mempengaruhi orang lain tanpa paksaan.
4. Dimensi
Struktur Organisasi
dalam kacamata para ahli organisasi, dimensi struktur
organisasi memiliki keragaman pandangan, bahkan dikatakan tidak ada kesepakatan
umum di antara para teoritikus mengenal apa yang diartikan sebagai struktur
orgnanisasi. (Robbins, 1994:91). Lebih jauh Robbins menyimpulkan bahwa para
teoritikus pada umumnya setuju dengan dimensi struktur organisasi tetapi tidak
setuju dengan definisi-definisi operasionalnya.
Dalam konteks itu Robbins mengemukakan tiga komponen yang
menjadi dimensi struktur organisasi, yaitu kompleksitas, formalisasi, dan
sentralisasi.
a. Kompleksitas
Kompleksitas adalah tingkat diferensiasi (perbedaan) yang
ada di dalam sebuah organisasi (Robbins, 1994:91). Diferensiasi fapat dilihat
secara horizontal, vertikal, dan spasial.
Diferensi horizontal adalah perbedaan antara unit
berdasarkan orientasi para anggotanya, sifat dari tugas yang mereka laksanakan,
tingkat pendidikan, dan pelatihan pegawai. Dengan kata lain, semakin banyak
pejerjaan yang harus dilakukan pegawai di dalam organisasi, maka semakin banyak
pula organisasi tersebut. Kondisi nyata dari diferensiasi horizontal adalah
spesialisasi dan departemensiasi.
Spesialiasi merupakan pengelompokan aktivitas tertentu yang
dilakukan satu individu. Spesalisasi terdiri dari spesialisasi fungsional dan
sosial. Spesialisasi fungsional dicirikan oleh pekerjaan yang dipecah-pecah
menjadi tugas yang sedehana dan berulang-ulang. Spesialisasi sosial dicirikan
oleh individu yang dispesialisasi, bukan pekerjaannya , dan pekerjaan tidak bersifat
rutin. Departementalisasi adalah cara organisasi secara khas mengkoordinasikan
aktivitas yang telah dibedakan secara horizontal.
Diferensiasi vertikal adalah pembedaan yang didasarkan pada
kedalaman struktur. Makin banyak tingkatan yang terdapat diantara top
management dan tingkat hirarki yang paling rendah, makin besar pula potensi
terjadinya distorsi/gangguan dalam komunikasi dan semakin sulit mengkoordinasi
pengambilan keputusan dari pegawai manajerial, serta makin sukar bagi top
management utnutk mengawasi kegiatan bawahannya.
Diferensiasi spasial adalah perbedaan yang didasarkan pada
kondisi geografis, yakni sejauhmana lokasi (kantor) tempat produksi barang dan
jasa, personalia, dan kantor pusat tesebar secara geografis. Sekolah-sekolah
dari satu yayasan dikategorikan sebagai diferensiasi spasial. Pembedaan ini
akan memunculkan kompleksitas dalam struktur organisasi.
b. Formalisasi
Formalisasi adalah tingkat sejauh mana pekerjaan di dalam
organisasi distandarkan. Konsekwensinya adalah pemegang pekerjaan hanya
mempunyai sedikit kebebasan mengenai apa yang harus dikerjakan, bilamana
mengerjakannya, dan bagaiamana ia harus melakukannya. Formalisasi sebaiknya
tertulis untuk dapat memberikan kekuatan pada pengarahan perilaku pegeawai.
Dalam konteks itu formalisasi diartikan sebagai sebuah tingkat dimana
peraturan, prosedur, intruksi, dan komunikasi ditulis.
Formasi penting karena standarisasi perilaku akan
mmengurangi keanekaragaman. Standarisasi juga mendorong koordinasi dan
penghematan. Orgnisasi yang melakukan standarisasi akan memiliki berbagai
manual organisasi, seperti manual akuntansi, manual personalia, manual diklat,
dan sebagainya. Rumah makan ampera merupakan salah satu contoh formalisasi
(standarisasi).
Teknik-teknik yang dapat digunakan untuk melakukan
standarisasi perilaku pegawai adalah seleksi (yang efektif); persyaratan peran
(analisis yang tepat); peraturan, prosedur, dan kebijaksanaan; pelatihan ; dan
ritual (bagian dari budaya organisasi)
c. Sentralisasi
Sentralisasi adalah tingkaat dimana pengambilan keputusan
dikonsentrasikan pada suatu titik tunggal dalam organisasi. Konsentrasi
keputusan yang tinggi adalah sentralisasi yang, sedangkan konsentrasi keputusan
yang rendah adalah sentralisasi yang rendah atau disebut disentralisasi.
Disentralisasi mengurangi kemungkinan terjadinya beban
informasi yang berlebihan, memberi tanggapan yang cepat terhadap informasi yang
baru, memberi masukan yang lebih banyak bagi sebuah keputusan, mendorong
terjadinya motivasi, dan merupakan sebuah alat yang potensial untuk melatih
para manajer dalam mengembangkan pertimbangan yang baik. Sebaliknya
sentralisasi menambah suatu persfektif yang menyeluruh terhadap
keputusan-keputusan yang menyeluruh terhadap keputusan-keputusan dan dapat
memberikan efesiensi yang berarti. (Robbins, 1994:127).
5. Desain
Organisasi
Desain organisasi didasarkan pada elemen-elemen umum dalam
orgnaisasi. Mintzberg (Robbins, 1994:127) menyebutkan lima elemen umum dalam
suatu organisasi, yaitu:
a. The operating
core. Para pegawai yang melaksanakan pekerjaan dasar yang berhubungan dengan
produksi dari produk dan jasa. Dalam organisasi sekolah pegawai in adalah guru.
Guru dikatakan sebagai ujung tombak pendidikan yang berinteraksi lansung dengan
layanan jasa pembelajaran kepada peserta didik.
b. The strategic
apex. Manajer tingkat puncak yang diberi tanggungjawab keseluruhan untuk
organisasi. Pada organisasi sekolah, orang ini adalah kepala sekolah.
c. The middle
line. Para manajer yang menjadi penghubung operating core dengan strtegi apex.
Dalam konteks perguruan tinggi orang-orang ini adalah para dekan yang
bertugas memfasilitasi strategic apex
untuk terimplementasi pada level jurusan. Di organisasi sekolah, posisi ini
dapat diidentifikasi sebagai wakil kepala sekolah yang bertugas menjembatani
kebijakan strategis sekolah supaya dapat terimplementasi pada level guru-guru
dan staf.
d. The techno
structure. Para analisis yang mempunyai tanggungjawab untuk melaksanakan bentuk
standarisasi tertentu dalam organisasi. Dalam konteks organisasi pendidikan di
Indonesia, masih jarang sekolah yang memiliki tenaga ini. Namun demikian tidak menutup kemungkinan pada
sekolah-sekolah tertentu yang memiliki elemen organisasi ini.
e. The support
staff. Orang-orang yang mengisi unit staf, yang memberi jasa pendukung tidak
lansung kepada organisasi. Di persekolahan staf ini dikenal dengan tenaga
administratif sekolah (TAS).
Berdasarkan lima elemen yang dikemukakan oleh Mintzberg
inilah Robbins menganalisis desain organisasi yang berbeda. Perbedaan desain
organisasi tersebut dikarenakan organisasi memiliki system dan aturan yang
berbeda dalam kelima elemen tersebut. Lima konfigurasi umum tersebut ialah :
Struktur sederhana, disarankan untuk organisasi yang kecil
dengan karakteristik organisasi yang masih dalam tahap awal dibentuk,
lingkungan organisasi sederhana dan dinamis, menghadapi krisis, atau jika
mempunyai kekuasaan dalam organisasi ingin agar kekuasaan tersebut
disentralisasi
Birokrasi mesin didesain untuk organisasi yang secara
efektif dapat menangani ukuran besar, lngkungan sederhana dan stabil, dan lain
sebagainya yang distandarisasikan.
Birokrasi professional didesain supaya operasional
keseharian yang kompleks dapat berjalan secara efektif.
Struktur divisional didesain untuk menanggapi strategi yang
menekankan kepada keanekaragaman pasar/produk, dimana organisasi tersebut
besarm teknologinya dapat dibagi-bagi dan stabil.
Adhocracy meminta agar manajemen puncak melepaskan kebanyakn
pengawasan. Konfigurasi ini cocok untuk organisasi yang memiliki strategi
variatif, beresiko tinggi, teknologi rutin, teknologi tidak rutin, atau
lingkungannya mungkin dinamis atau kompleks.
BAB III
KESIMPULAN
Organisasi adalah suatu sistem interaksi antar orang yang
ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi, dimana sistem tesebut memberikan
arahan perilaku bagi anggota organisasi. Pandangan organisasi saat ini tidak
lagi sebagai mesin birokrasi tetapi sebagai sistem sosial.
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang
secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah
orang untuk mencapai tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi lewat
hirarki otoritas dan tanggungjawab (Schein). Karakterisitik organisasi menurut
Schein meliputi : memiliki struktur, tujuan, saling berhubungan satu bagian
dengan bagian yang lain untuk mengkoordinasikan aktivitas di dalamnya.
Organisasi adalah susunan dan aturan dari berbagai-bagai bagian (orang dsb)
sehingga merupakan kesatuan yang teratur. (W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum
Bahasa Indonesia).
Organisasi adalah sistem sosial yang memiliki identitas
kolektif yang tegas, daftar anggota yang terperinci, program kegiatan yang
jelas, dan prosedur pergantian anggota. Pengorganisasian adalah fungsi
manajemen dan merupakan suatu proses yang dinamis, sedangkan organisasi adalah
alat atau wadah yang statis (menciptakan struktur dengann bagian-bagian yang
diitegrasikan)
Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam
Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan
struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan
lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur
organisasi. Struktur organisasi pada umumnya kemudian digambarkan dalam suatu
bagan yang disebut bagan organisasi. Bagan organisasi adalah suatu gambar
struktur organisasi yang formal, dimana dalam gambar tersebut ada garis-garis
(instruksi dan koordinasi) yang menunjukkan kewenangan dan hubungan komunikasi
formal, yang tersusun secara hierarkis.
Pandangan organisasi sebagai sistem sosial adalah formal,
namun keberadaan organisasi tidak dapat menghindari keberadaan organisasi
informal. Keberadaan keduanya merupakan suatu sinergi upaya pencapaian tujuan
organisasi. Dalam konteks itu, organisasi formal dicirikan oleh tiga dimensi
utama, yaitu kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi. Keberagaman dalam
dimensi struktur organisasi ini kemudian membawa implikasi pada keragaman
desain organisasi.
Sekolah sebagai suatu organisasi juga dipandang sebagai
sistem sosial yang terbuka terhadap lingkungan organisasi. Upaya untuk merespon
dan memenuhi berbagai tuntutan dan perkembangan, termasuk pelanggan sekolah
adalah dengan menjadikan sekolah sebagai learning organization yang diwujudkan
melalui dukungan organisasi yang kuat terhadap pengembangan dan perbaikan
secara terus menerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
No bodies perfect in the world. SO!! Give me comment (s)